Mr. BIG

Mr Big adalah band hard rock yang dibentuk di Los Angeles, California pada tahun 1988. Band ini adalah kuartet komposer, yaitu Eric Martin (vokal), Paul Gilbert (gitar), Billy Sheehan (gitar bass), dan Pat Torpey (drum); Band ini terkenal karena kemampuan bermusik mereka, dan mencetak sejumlah hits. Lagu-lagu mereka sering ditandai dengan vokal yang kuat dan sangat harmonis. Hit mereka termasuk “To Be With You” (nomor satu di 15 negara pada tahun 1992) dan “Just Take My Heart”.

Mr Big tetap aktif dan populer selama lebih dari dua dekade, meskipun ada konflik internal dan perubahan pada tren musik. Mereka bubar pada tahun 2002, tapi setelah ada begitu banyak permintaan dari fans, mereka bersatu kembali pada tahun 2009; tepatnya pada tur pertama mereka di Jepang, yaitu Juni 2009. Sampai saat ini, Mr Big telah merilis delapan album studio, termasuk yang terakhir yaitu The Stories We Could Tell pada 2014.

Band ini mengambil nama dari sebuah lagu yang dibawakan oleh Free, yang akhirnya dicover oleh band ini di album mereka pada 1993, yaitu Bump Ahead.

Setelah Billy Sheehan keluar dari backing band David Lee Roth pada tahun 1988. ia mulai membentuk sebuah band baru dengan bantuan dari Mike Varney dadi Sharpnel Records, sebuah label yang mengkhususkan diri shredding genre. Billy merekrut Eric Martin dari Eric Martin Band yang beraliran soul yang kebetulan saat itu sedang bersolo karir. dan kemudian merekrut Gilbert dan Torpey. Gilbert sendiri saat itu sudah dianggap sebagai seorang gitaris yang cukup disegani yang sudah merilis dua album bandnya sendiri Racer X. Torpey berasal dari Arizona dan berkelana di California serta telah melakukan beberapa tur dengan berbagai musisi kelas atas, seperti Impellitteri, Belinda Carlisle, Stan Bush, Ted Nugent, The Knack dan Jeff Paris. Jeff Paris sendiri sering berkolaborasi dengan Mr Big dalam hal menulis lagu.

Pada tahun 1989, mereka menandatangani kontrak dengan Atlantic Records dan merilis debut self-titled mereka pada tahun yang sama. Rekor tidak mendapatkan band penonton mainstream rock di Amerika Serikat, tapi justru sukses di Jepang.Pada bulan Juni 1990, kelompok ini melakukan tur di Amerika dan menjadi band pembuka untuk Rush. Pada bulan Agustus 1990, Mr Big melakukan pertunjukan dengan dua lagu, “Strike Like Lightning” dan “Shadows”, secara khusus dirilis pada album soundtrack dari film aksi Navy SEAL.

Album kedua Mr Big, 1991 Lean Into It, adalah terobosan besar komersial, terutama dua lagu balada, “To Be With You” (nomor satu lagu di lima belas negara) dan “Just Take My Heart”, serta lagu “green -Tinted Sixties Mind “. Cover album ini memiliki gambar dari kereta api di Montparnasse. Mereka melakukan tur Inggris pada bulan April dan Mei 1991 dan lagi pada tahun 1992, merilis sebuah album live, Mr Big Live, pada tahun 1992. Selama tiga malam, mereka jadi band pembuka untuk band legendaris Aerosmith di Wembley Arena, London.

Pada tahun 1993, lagu balada lain, sebuah cover dari lagunya Cat Stevens ‘”Wild World”, (dari album ketiga mereka, Bump Ahead) memuncak di No 27 di Billboard Hot 100. Meskipun dikatakan bahwa band ini juga memberikan kontribusi yang soundtrack ke Sega Mega-CD rilis The Amazing Spider-Man vs The Kingpin, lagu yang benar-benar menampilkan Eric Martin dengan musisi yang disewa oleh Sega.

Mereka merilis Hey Man pada tahun 1996. Lagu “Take Cover” yang disertakan pada soundtrack untuk serial kartun Mega Man.

Meskipun band ini tidak pernah direplikasi keberhasilannya sebelumnya di pasar AS, popularitas mereka terus melambung di Jepang dan sebagian besar Asia. Mereka terus menjual wisata di pasar Asia.

Live At Budokan adalah salah satu rilis hidup ditujukan untuk pasar Jepang saja. Pada saat album itu muncul kelompok telah dimasukkan di atas es, sebagai anggota band individu menjadi lebih asyik di proyek lain; band bubar sementara pada tahun 1997.

Alice Cooper

Terlahir dengan nama Vincent Damon Furnier, pada 4 Februari 1948, adalah seorang penyanyi, musisi, penulis lagu serta pemain film. dia lebih dikenal dengan nama Alice Cooper.

Dengan panggung pertunjukan yang menampilkan Guillotines, kursi listrik, darah palsu, boa constrictors, boneka bayi, dan duel pedang, Cooper dianggap oleh fans dan rekan sesama musisi sebagai “The Godfather of Shock Rock”; karena ia telah meramu film horor, vaudeville, dan garage rock dan pertunjukan teater menjadi suatu sajian rock yang mengerikan dan dirancang untuk mengejutkan orang-orang.

Berasal di Phoenix di akhir 1960-an setelah ia pindah dari Detroit, Alice Cooper awalnya band yang terdiri dari Furnier pada vokal dan harmonika, gitaris Glen Buxton, Michael Bruce pada gitar, Dennis Dunaway pada gitar bass, dan drummer Neal Smith. Alice Cooper asli band yang masuk ke arus utama musik internasional dengan hit 1971 “I’m Eighteen” dari album Love It to Death, yang diikuti oleh lebih besar tunggal “Schools Out” pada tahun 1972. Band ini mencapai puncaknya komersial dengan 1973 album Miliar Dollar Babies.

Furnier mengadopsi nama band sebagai namanya sendiri pada 1970-an dan memulai karier solo dengan konsep album 1975 “Welcome to My Nightmare. Pada tahun 2011 ia merilis Welcome 2 My Nightmare, album ke-19 sebagai artis solo, dan album ke-26 nya secara total. Memperluas dari akar rock Detroit, dalam karirnya Cooper telah bereksperimen dengan sejumlah gaya musik, termasuk seni cadas, hard rock, heavy metal, new wave, pop rock, rock eksperimental dan rock industrial.

Alice Cooper dikenal untuk persona sosial dan cerdas nya di luar panggung, dengan The Rolling Stone Album Guide menyebutnya “beloved heavy metal entertainer” di dunia. Dia dikreditkan dengan membantu untuk membentuk suara dan tampilan heavy metal, dan juga digambarkan sebagai artis yang “pertama kali diperkenalkan citra horor untuk rock’n’roll, dan yang stagecraft dan kecakapan memainkan pertunjukan telah secara permanen mengubah genre”. Jauh dari musik, Cooper adalah seorang aktor film, selebriti golf, restauranteur dan , sejak tahun 2004, radio DJ populer dengan rock klasik nya menunjukkan Nights Alice Cooper.

Pada tahun 2011, nama Alice Cooper Band dimasukkan ke dalam Rock and Roll Hall of Fame.

The CLASH – London Calling

London Calling adalah album studio ketiga dari band punk rock The Clash yang berasal dari Inggris. Album ini dirilis di Inggris pada tanggal 14 Desember 1979 oleh CBS Records, dan di Amerika Serikat pada bulan Januari 1980 oleh Epic Records. London Calling adalah album post-punk yang menggabungkan berbagai gaya, termasuk punk, reggae, rockabilly, ska, New Orleans R & B, pop, jazz lounge, dan hard rock.

Subyek album termasuk perpindahan sosial, pengangguran, konflik rasial, penggunaan narkoba, dan tanggung jawab dewasa. Album ini mendapat pengakuan dan menempati peringkat ke delapan dalam daftar Rolling Stone The 500 Album Greatest of All Time pada tahun 2003 .

Album ini telah terjual lebih dari lima juta kopi. di seluruh dunia, dan bersertifikat platinum di Amerika Serikat.

Sampul depan album ini adalah foto dari bassis The Clash yang bernama Paul Simonon saat memukul Fender Precision Bass miliknya ke panggung di The Palladium di New York City pada 20 September 1979 selama Clash mengambil tur Kelima AS. Waktu itu The Clash manggung tapi penonton diem aja. merasa frustasi akhirnya Paul Simonon memukul gitarnya ke panggung agar penonton menjadi ramai.

Foto ini diambil oleh seorang asisten band bernama Pennie Smith. Awalnya Pennie Smith tidak ingin foto ini digunakan sebagai cover album karena foto ini jelek sebab tidak fokus, tapi sang vokalis Strummer menganggap foto ini akan menjadi sesuatu yg hebat bila dijadikan cover album mereka. Dan akhirnya semuanya terbukti benar. Tahun 2002 foto ini masuk dalam daftar foto rock and roll terbaik sepanjang masa oleh Q Magazine. Foto itu diberi nama Total loss of control.

Dan akhirnya cover album ini dipajang di Cleveland Rock and Roll Hall of Fame pada Mei 2009. Pada tahun 2010 cover album ini dipilih oleh Royal Mail, jawatan pos di Inggris dan dijadikan perangko.

'London Calling adalah album studio ketiga dari band punk rock The Clash yang berasal dari Inggris. Album ini dirilis di Inggris pada tanggal 14 Desember 1979 oleh CBS Records, dan di Amerika Serikat pada bulan Januari 1980 oleh Epic Records. London Calling adalah album post-punk yang menggabungkan berbagai gaya, termasuk punk, reggae, rockabilly, ska, New Orleans R & B, pop, jazz lounge, dan hard rock.

Subyek album termasuk perpindahan sosial, pengangguran, konflik rasial, penggunaan narkoba, dan tanggung jawab dewasa. Album ini mendapat pengakuan dan menempati peringkat ke delapan dalam daftar Rolling Stone The 500 Album Greatest of All Time pada tahun 2003 .

Album ini telah terjual lebih dari lima juta kopi. di seluruh dunia, dan bersertifikat platinum di Amerika Serikat.

Sampul depan album ini adalah foto dari bassis The Clash yang bernama Paul Simonon saat memukul Fender Precision Bass miliknya ke panggung di The Palladium di New York City pada 20 September 1979 selama Clash mengambil tur Kelima AS. Waktu itu The Clash manggangung tapi penonton diem aja. merasa frustasi akhirnya Paul Simonon memukul gitarnya ke panggung agar penonton menjadi ramai.

Foto ini diambil oleh seorang asisten band bernama Pennie Smith. Awalnya Pennie Smith tidak ingin foto ini digunakan sebagai cover album karena foto ini jelek sebab tidak fokus, tapi sang vokalis Strummer menganggap foto ini akan menjadi sesuatu yg hebat bila dijadikan cover album mereka. Dan akhirnya semuanya terbukti benar. Tahun 2002 foto ini masuk dalam daftar foto rock and roll terbaik sepanjang masa oleh Q Magazine. Foto itu diberi nama Total loss of control. 

Dan akhirnya cover album ini dipajang di Cleveland Rock and Roll Hall of Fame pada Mei 2009. Pada tahun 2010 cover album ini dipilih oleh Royal Mail, jawatan pos di Inggris dan dijadikan perangko.'

The Gembells…

Band ini berasal dari singkatan unik ‘Gemar Belajar’ yang mulai terbentuk pada Oktober 1969 di Surabaya. Formasi pertama grup ini yaitu Victor Nasution (leader, organ, rhythm, timpani, trumpet), Rudy Ananta (leadguitar, saxophone), Abubakar (bass), Minto Muslimin (drum), Anan Zaman (piano, organ, flute, saxophone), dan Eddy Mathovani(lead vocal) . Liku-liku bermusik The Gembells termasuk agak unik karena masyarakat awam mengira kelompok ini memang benar-benar ‘gembel’, atau manusia jalanan yang luntang-lantung, padahal justru menarik karena hampir seluruh personelnya masih berstatus mahasiswa di beberapa universitas di Surabaya. Tak heran jika formasi pertama The Gembells ini tidak bertahan lama, karena kesibukan setiap personel dengan kuliahnya. Peran para pendukung The Gembells pada formasi berikutnya berubah menjadi Victor Nasution (leader, organist, vocal), Rudy Ananta (lead guitar, clarinet), Abubakar (bass, flute), Djodjok Rahardjo (piano, violist), dan Minto (drummer, saxophone) sedangkan Anaz Zaman bertindak sebagai penata musik/lirik saja.

Di tengah derasnya arus musik underground yang dibawakan grup yang sama-sama dari Surabaya, AKA, The Gembells justru berhasil mempertahankan ciri khasnya sebagai grup musik pelantun tembang-tembang dengan lirik yang mengagungkan sikap kepahlawanan dan protes sosial yang aransemen musiknya ditata secara manis. Karena hal itulah The Gembells lebih menyukai aliran dan warna musik mereka dengan sebutan ‘Afro Asia Sound’, yakni perpaduan antara musik Afrika (lebih dominan perkusi) dan musik Asia (berisikan penguatan pada lirik dan melodi yang sentimental). The Gembellls sering diikutkan dalam pertunjukan musik di pentas terbuka seperti ketika mengisi acara pesta akhir tahun pada 31 Desember 1971 di Pandaan, Jawa Timur, bersama-sama dengan grup asal Jakarta (Darpus Min Plus (eks Dara Puspita) dan The Rollies asal Bandung. Mereka berhasil menarik simpati seorang sponsor rekaman untuk membawa The Gembells berkunjung ke Singapura. Di Indonesia, nama The Gembells jarang dipublikasikan di media massa, namun justru di Singapura, band ini menjadi pembicaraan hangat anak muda di sana. Beberapa kegiatan mereka selalu disorot oleh pers.

Sekembalinya ke Indonesia mereka mulai mencoba hasil karya mereka untuk direkam. Album perdana mereka berisikan lagu karya mereka dengan lagu belirik bahasa Inggris dan delapan lagu Indonesia dengan judul album Pahlawan Yang Dilupakan, di bawah label rekaman Indra Record Surabaya. Uniknya mereka masuk dapur rekaman tanpa menjalani tes terlebih dahulu layaknya grup-grup yang lain. Sedangkan untuk lebih memasyarakatkan warna musik ‘Afro Asia Sound’ yang dikibarkan mereka pun sering mengisi acara dengan grup-grup musik yang sudah punya nama. Misalnya pada 4 Maret 1972 di Gelora Pancasila Surabaya, The Gembells tampil bersama The Rollies dan Panbers. Meski rajin merilis album, di setiap pentas, The Gembell’s kadangkala juga membawakan lagu-lagu grup dari luar seperti GrandFunk Raillroad. Tak hanya itu, mereka juga kerap membawakan lagu-lagu dari Santana dan Led Zeppelin.

Diskographi:
1. Pahlawan yang Dilupakan 2. Balada Kalimas 3. Hey Dokter 4. Surapati Wiranegara 5. Si Munafik 6. Singosari 7. Balada Seorang Pahlawan 8. 12 Tahun The Gembell’s 9. The Gembell’s 83 10. Pop Melayu

Hobi Unik Musisi Rock / Metal

Dibalik penampilan sangar diatas panggung, ternyata rocker jg manusia! Selain memiliki keluarga, tak jarang para musisi jg memiliki hobi yg kadang bertolak belakang dgn kesehariannya di atas panggung, berikut bbrp diantaranya :

Alice Cooper
Meski terlihat gahar di panggung namun Alice Cooper adalah orang yang lembut dan menyenangkan. Alice memiliki hobi yang sangat unik, yaitu bermain golf.

Kirk Hammet
Untuk melepas penat karena tur dunia yang berat, Kirk Hammet meluapkannya dengan menyalurkan hobinya. Kirk memiliki hobi mengoleksi film horor berserta merchandisenya yang dimulai sejak berusia 6 tahun. Selian film horor, surfing menjadi hobi Kirk sejak dahulu.

Corey Taylor
Vokalis Slipknot dan Stonesour ini memiliki hobi yang sangat kontras dengan dunianya. Dia sangat menyukai dan mengoleksi action figur, terutama Spiderman. Kesukaanya akan Spiderman sudah muncul sejak remaja hingga kini. Bahkan saat Stonesour diminta untuk mengisi soundtrack Spiderman, dia langsung menginyakan.

Kerry King
Gitaris band thrash metal, Slayer ini selalu tampil garang di panggung dan kesehariannya. Dia juga memiliki hobi yang sangat seram, yaitu mengoleksi ular. King memiliki banyak koleksi ular dari berbagai macam jenis yang semuanya berbisa. Dia membuat tempat besar khusus untuk menaruh kandang-kandang koleksinya.

Paul Stanley
Melukis menjadi hobi dari Paul Stanley. Gitaris grup band Kiss ini tak hanya asal melukis aja, karena setiap lukisannya memiliki cita rasa yang sangat tinggi dimana ia memiliki spesifikasi tersendiri seperti simbol-simbol yang identik dengan kaum hippies, lambang perdamiaan serta bertemakan pop art.

Geddy Lee
Pemain bass dari grup band progresif rock, Rush ini sangat cinta dengan baseball. Sehingga dia memiliki hobi untuk mengoleksi apapun yang berkaitan dengan olahraga kebanggan warga Amerika ini. Karena banyaknya koleksi yang dimiliki, Lee pun mendonasikan beberapa koleksinya berupa 200 tandatangan pemain baseball Liga Negro ke pihak Museum Liga Negro Baseball di Kansas, Amerika Serikat.

Dave Mustaine
Hobi dari frontman grup cadas, Megadeth ini sangat unik. Kesenangannya dengan kuda membuat Dave Mustaine pun mendirikan peternakan kuda. Selain itu dia juga menggemari olahraga skydiving. Tak hanya itu gitaris ini juga senang dengan olahraga beladiri yang ditekuni sejak usia dini.

George Corpsegrinder
Vokalis Cannibal Corpse ini sebenarnya adalah orang yang ramah. Dia memiliki hobi yang sangat unik dan jauh dari persepsi orang akan sosoknya sebagai vokalis band metal. George menggemari action figur dan memiliki banyak sekali koleksi. Selain itu dia juga menggemari game seperti DOTA dan semacamnya.

Ritchie Kotzen
Mantan Gitaris Mr BIG dan Poison ini memiliki hobi yang sangat berbeda dan tak disangka oleh orang. Dia senang sekali merenovasi rumahnya. Di waktu senggangnya, Ritchie banyak memanfaatkan waktunya dengan merenovasi rumah. Dia sering mendesain ulang semua yang ada di rumahnya dengan apa yang diinginkan.

Bill Keliiher
Gitaris band stoner metal, Mastodon ini memiliki hobi yang sama dengan George Corpsegrinder dan Corey Taylor yaitu action figur. Bill Kelliher lebih memfokuskan pada hal yang berbau Star Wars. Bahkan Bill menato tangannya dengan salah satu karakter di Star Wars.

Steve Vai
Master gitaris, Steve Vai ini memilih lebah madu sebagai hobinya. Vai mengaku terisnpirasi setelah melihat bagaimana memelihara lebah. Sejak itu Vai pun lebih fokus lagi untuk berternak lebah madu.

Neil Young
Jatuh cintanya pada kereta membuat Neil Young menekuni hobi untuk mengoleksi pada miniatur mainan kereta. Rocker ini memiliki banyak sekali koleksi kereta dari berbagai model. Neil juga masuk dalam jajaran pemilik LLC salah satu perusahaan aksesoris kereta model dan rel terbaik di dunia. Namanya juga telah dipatenkan pada 7 kereta model.

KANSAS Band

Kansas adalah sebuah band rock Amerika yang menjadi populer pada 1970-an awalnya pada tangga lagu rock album-oriented dan terkenal dengan dua single “legendaris” seperti “Carry On Wayward Son” dan “Dust in the Wind”. Band ini telah menghasilkan delapan album emas , tiga album platinum (Leftoverture, Point of Known Return, The Best of Kansas), salah satu platinum album live (Two For the Show) dan sejuta penjualan lewat single “Dust in the Wind”. Kansas muncul di tangga lagu Billboard selama lebih dari 200 minggu sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an dan tiket konsernya selalu terjual habis di seluruh Amerika Utara, Eropa dan Jepang. “Carry On Wayward Son” adalah lagu kedua paling sering diputar di radio rock klasik tahun 1995 dan No 1 tahun 1997.

Dua lagu yang paling populer dari Kansas, “Carry On Wayward Son” dan “Dust in the Wind,” telah dicover oleh banyak musisi dan seniman lain, dan banyak dijadikan soundtrack.

“Carry On Wayward Son” telah dicover oleh Critical Mass, Dream Theater, Yngwie Malmsteen, The Oak Ridge Boys, Rachel Rachel, The Showdown, Stryper, Gwar, dan versi live secara spontan oleh Foo Fighters. Reff dan beberapa bagian dari lagu itu juga sering ditampilkan langsung oleh Pantera dalam lagu mereka “Cowboys from Hell.”

“Dust in the Wind” telah dicover oleh Sarah Brightman, Scorpions (Acoustica/versi akustik), seniman Kristen Acappella dan Billy Smiley, trance progresif DJ Gabriel & Dresden, mantan center fielder New York Yankees dan gitaris jazz Bernie Williams (The Journey Within), dan mantan vokalis kansas sendiri John Elefante (2006). Lagu ini juga pernah dinyanyikan oleh Will Ferrell selama film Old School. Lagu ini sempat muncul dalam beberapa episode dari serial televisi Highlander dan direferensikan dalam film Bill dan Ted Excellent Adventure. Lagu ini juga ditambah atau dimodifikasi dan digunakan sebagai musik untuk komersial Subaru. Komedian Tim Hawkins melakukan parodi dari lagu yang berjudul “A Whiff of Kansas” yang ada di album Pretty Pink Tractor dalam bentuk DVD maupun live. Ada juga video tentang musik yang mencerminkan hal yang sebenarnya dari lagu “Dust in the Wind” video musik ini dalam format DVD.

Tambahan cover termasuk “Point of Know Return” oleh Vanden Plas (Beyond Daylight), “The Wall” oleh Lana Lane (Covers Collection), dan “Fight Fire with Fire” oleh Frost (Rise Your Fist to Metal ).

“Carry On Wayward Son” juga telah dijadikan soundtrack untuk film dan televisi, seperti: Anchorman: The Legend of Ron Burgundy, Family Guy, Gentlemen Broncos, Happy Gilmore, Heroes (1977), Scrubs, South Park (episode “Guitar Queer-o “), King of the Hill (” My Own Private Rodeo “), Stranger with Candy (“Yes You Can’t”), dan Supernatural (jadi lagu intro untuk setiap episode di final season), dan Supernatural: The Anime Series (sebagai ending untuk setiap episode). Lagu ini juga muncul dalam video game, seperti Guitar Hero II, Guitar Hero Smash Hits, Rock Band 2, dan Rock Band Unplugged.

The Rollies

The Rollies diawali ketika Deddy Sutansyah bertemu dengan Iwan Krisnawan dan Teuku Zulian Iskandar Madian dari grup Delimars serta Delly Djoko Alipin dari group Genta Istana. Deddy mengajak mereka bergabung dalam sebuah grup yang diberi nama Rollies pada bulan April 1967. Orang tua Deddy yang pemilik hotel Niagara menjadi penyandang dana dan menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan. Rollies mulai malang melintang di negeri sendiri dengan membawakan lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, Hollies, Marbles, Beach Boys, Herman Hermits, juga lagu populer dari Tom Jones dan Englebert Humperdink.

Ketika awal group ini terbentuk, Deddy Stanzah dan kawan- kawan senantiasa berusaha berinovasi, antara lain dengan mengajak pemusik “sekolahan” Benny Likumahuwa yang mahir membaca not balok dan menulis aransemen. Menambah orkestrasi dalam pertunjukan dan ketika mendampingi grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974, mereka menambah aransemen musiknya dengan tabuhan gamelan yang dimainkan anggota Rollies sendiri. Seperti yang mereka lakukan dipesta musik ala woodstock ”Summer 28,1973” di Ragunan Instruktur gamelannya tidak lain Benny Likumahuwa.

The Rollies semakin kokoh bahkan menjadi band pembuka konser Bee Gees pada tanggal 2 April 1972 di Istora Senayan serta Shocking Blue23 Juli 1972 di Taman Ria Monas dan group asal Amerika, No Sweat,di Istora Senayan tahun 1974 tidak berlebihanlah bilamana mereka disebut sebagai Chicago van Bandung karena hampir semua lagu populer grup asal Amerika itu mereka bawakan di atas panggung:Saturday in The Park, Just You and Me, Old Days, Wishing You were Here, Harry Truman, Call on Me, di samping lagu-lagu Blood Sweat and Tears, Spinning Wheel, Hi Di Ho, serta lagu-lagu grup Yes: Opening From  Fire Bird, James Brown: It’s A Man’s Man’s World, atauGetsemane dari soundtrack film Jesus Christ Superstar, yang diproduksi tahun 1973 dan diangkat dari drama musikal populer diBroadway. Belum lagi mereka berani sepanggung dengan AKA pada. Juli 1972 di Istora Senayan serta Oktober 1973 di Gelora Pancasila yang menampilan raksasa-raksasa rock saat itu  seperti AKA, God Bless dan The Rollies mereka memang punya PD yang pol untuk tampil bareng group band sekelas AKA atau God Bless karena mereka punya warna musik sendiri dan penggemar yang fanatik juga.

Penuh Sensasi

Meski sering cekcok di belakang panggung, jika sudah berhadapan dengan penonton, mereka menjadi sebuah group yang tampil sangat kompak dan hampir selalu tampil dengan pakaian rapi. Perancangnya tiada lain adalah Deddy Sutansyah. Mereka juga dikenal royal dan suka melemparkan pakaian yang dikenakan kepada penonton.

Kebesaran nama The Rollies tidak lepas pula dari peran aktifnya majalah Aktuil dalam membuat pemberitaan tentang pagelaran atau aktifitas mereka setiap hari disamping seringnya Remy Silado yang karena kekagumannya, selalu membanggakan The Rollies pada hampir setiap tulisannya di Aktuil selain sensasi yang mereka buat guna untuk mendongkrak popularitasnya seperti berhujan-hujanan dijalan raya, menggunakan narkoba pula hingga mereka berurusan dengan Komdak Metro Jaya

Rollies Ketika Di Negeri Jiran 1967

Ada beberapa lagu berbahasa Inggeris yang tambah melambungkan nama The Rollies antara lain : Sign Of Love dan The Love Of A womanbahkan Gone are the Song of Yesterday sampai masuk Top Ten di radio Australia diawal tahun 70’an sedangkan Gito menyanyikan lagu lagu seperti; It’s a Man’s Man’s World, Sunny, I Feel Good, I Love You More, Sunshine of My Brotherhood, Kansas City dll..

Hamid Gruno, pemandu bakat & Sutradara dari TVRI pernah diskors oleh atasannya gara-gara The Rollies & Freedom yang berambut panjang ditampilkannya di TVRI  pada tahun 1973 dalam  acara Kamera Ria. Di TVRI Benny Likumahuwa membuka topi dan mengibaskan rambut panjangnya saat diwawancarai Remy Sylado yang sa’at itu pakai seragam hitam dengan rambut panjang diikat kebelakang Sejak saat itu The Rollies selama beberapa tahun tidak pernah ditampilkan lagi di TVRI.

Sebagai seorang musisi, Benny Likumahuwa merasa ruang geraknya kurang begitu leluasa akibat pembatasan-pembatasan formal yang ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya tentang rambut, dimana musisi harus menyisir rapi rambut menurut ukuran sepihak untuk bisa muncul di layar TVRI. Benny Rollies juga mengatakan dia tahu semua itu dilakukan pemerintah untuk mewujudkan apa yang disebut itu sebagai musik yang berkepribadian nasional, tetapi dengan terus terang dia mengatakan bahwa musik semacam itu tidak mungkin terkenal di seluruh dunia. Dia pun sempat mempertanyakan seperti apa sebenarnya musik yang berkepribadian nasional.

What Goes Up Must Come Down

Itulah salah satu bait syair dari group brass rock  Blood Sweat & Tearsdalam lagu Spinning Wheel yang nyaris pas untuk keberadaan group brass rock dari Bandung ini pada tahu tahun berikutnya. Waktu terus berjalan, tahunpun  berganti  pula dan  pamor The Rollies mulai memudar karena wafatnya Iwan Krisnawan sang Drummer ditahun 1974 disusul Deddy Stanzah yang didepak dari group brass rock itu .Walaupun menyandang julukan group brass-rock nomor satu, tetapi pada akhirnya setelah memasuki era 80’an Rollies-pun mengalami masa stagnasi yang berkepanjangan. Nyaris tidak terlihat usaha mereka untuk menghasilkan lagu-lagu yang baik dan musik yang mereka kerjakan terkesan dibuat tidak seserius sebagaimana menyiapkan diri untuk tampil dalam sebuah pertunjukan. Sementara group musik baru bermunculan seperti Krakatau, Halmahera, dan Karimata dengan kualitas musik yang mengagumkan ternyata tidak menggugah personel Rollies. nampaknya The Rollies-pun mulai letih mereka terkesan terkena penyakit post-power syndrome.

Dimasa jayanya, selain memiliki sebuah butik dan peralatan musik, Rollies juga sempat punya sebuah panggung berjalan dengan belasanroadists yang membantu mereka dalam perjalanan pertunjukan turnya di sejumlah kota. Semuanya habis begitu saja. Begitu juga penghasilan yang termasuk sangat besar nominalnya yang diperoleh anggota Rollies nyaris tidak berbekas. Benny Likumahuwa yang sekarang sudah bertambah uzur, mengaku rumah yang didiaminya  di bilangan Villa Mutiara  Tangerang Selatan sekarang justru dia peroleh dengan bermain musik jazz.

Gito menyatakan hal yang sama. Apa yang dia peroleh adalah hasil sebagai pemain sinetron dan bersolo karier sebagai penyanyi,  Pria kelahiran Biak, Irian Jaya, 3 November 1946, telah bermetamorfosis sebagai Da’i dan aktif berkeliling Indonesia dari satu tempat ketempat lainnya bersama teman-temannya dari Jema’ah Tabligh yang dengan setianya mengikuti kemana dia berdakwah. Gito sering diminta bertabigh untuk kaum muda dalam usahanya menyadarkan mereka akan bahaya narkoba dengan dirinya sebagai contoh yang kongkrit akan bahaya narkoba.

Berguguran

Kemudian personil The Rollies yang asli satu persatu meninggal; Iwan Krisnawan pemain drum The Rollies pertama yang meninggal dunia di usia muda pada tahun 1974 menurut Aktuil dia kena OD, lalu Deddy Sutansyah karena hobbi lamanya bergelut dengan narkoba membawa petaka baginya , akhirnya ajal menjemputnya pada hari Senin tanggal 23 Januari 2001. Deddy wafat dengan meninggalkan dua orang anak dan isteri yang sangat setia mendampinginya dikala suka dan duka hingga akhir hayatnya. Setelah itu Raden Bonny Nurdya sang Guitarist yang dimasa jayanya dulu dia selalu diasosiasikan sebagai Steve Hackett-nya Indonesia  wafat juga setelah beberapa waktu di rawat di Rumah Sakit karena menderita radang lambung kronis.

Didit Maruto, Utje F Tekol dan Jimmy Manopo  Gabung

Delly Djoko Alipin sang keyboardist yang memiliki lengkingan  suara yang  tiada duanya ini sempat bersolo karier dengan lima album yang dibuatnya namun kurang begitu laku dimasyarakat karena jenis lagu-lagu Delly itu sangat berat ditelinga pendengar musik awam, lalu Delly-pun menyusul kedua rekannya, karena serangan jantung. Delly meninggal pada tgl 30 Oktober 2002, sebelum wafat Delly banyak mendalami masalah agama dan menjadi sangat  religious. Pada beberapa  video clip-nya di TVRI  sering  terlihat Delly menyanyi dengan memakai surban dan jubah serta naik kuda. Diakhir hayatnya Delly banyak menyanyikan  lagu-lagu religi di TVRI. Kemudian Raden Bonnie Nurdaya meninggal pula. Steve Hackett-nya Indonesia itu  wafat pada tgl 13 Juli 2003, lalu Gito alias Bangun Sugito-pun menyusul keempat rekannya, Gito  wafat dengan meninggalkan keluarga yang sholeh dan sakinah. Upacara pemakamannya dihadiri oleh ribuan pelayat dan jemaah tabligh-nya (dimana dihari-hari senjanya Gito begitu aktif dengan jemaah ini dalam bertabligh), kerabat serta penggemarnya, akhirnya  group band besar itupun hanya tinggal menjadi kenangan bagi para penggemarnya setelah hampir semua pemain aslinya telah meninggal dunia .

Kini The Rollies asli hanya tinggal Benny Likumahua dan Teuku Zulian Iskandar Madian  atau Iis yang masih tersisa., kenangannya bersama The Rollies Bagi Benny merupakan kenangan yang begitu mendalam dan sangat mempengaruhi jiwanya setiap kali ada yang bertanya tentang The Rollies, Benny Likumahua begitu sigap dan antusias menjawabnya walaupun dapat dirasakan betapa keharuan yang mendalam ketika dia bercerita tentang band yang membesarkan namanya itu, dimasa tuanya kini Benny  masih bermain musik jazz kadang bersama dengan anak dan teman temannya disamping membaktikan diri pada Tuhannya sebagai seorang Nasrani yang sangat santun dan  ta’at.

NEW ROLLIES

Utje F Tekol sebagai pencabik bass pengganti Deddy Sutansyah masih bermusik sesekali sebagai bintang tamu di Superkid dan Giant Step di era pertengahan 1970’an dan 1980’an dan telah menghasilkan beberapa album dengan mereka. Jimmy Manopo

yang menggantikan Iwan Krisnawan masih aktif sebagai session drummer. Begitu juga Didit Maruto masih aktif sebagai session trumpet player. Pomo yang pernah memperkuat The Pro’s ini hanya selintas singgah di Rollies, dia bekerja di Pertamina  sudah pensiun dan tidak terdengar lagi khabar kegiatannya.

Khabar terakhir dari Utje F Tekol bahwa New Rollies yang terdiri dari Utje F Tekol , Iskandar, Benny Likumahua,Abadi Susman, Jimmy Manopo, Didit Maruto,Masrie ex Yeah Yeah Boys dan Guswin serta Alfredo yang menurut Uce F Tekol adalah keponakannya itu telah membangkitkan kembali The Rollies mereka mengadakan show di Bumi Sangkuriang dan di café hotel Sultan dimana pertunjukan mereka mendapat sambutan yang sangat hangat terutama dari para fan Rollies yang masih tetap setia.

THE VERY NEW ROLLIES FORMATION !

SAHARA Rock Band

Sahara berdiri tahun 1989 atas rintisan Richard Mutter dan Ahmad Sebastio. Dengan vokalis Ixan Rantas didukung oleh gitaris Dion, bassis Ahmad Sebastio, serta Drummer Agus Azis, grup asal Bandung ini merilis album pertamanya “Insomnia” pada tahun 1993. SAHARA, band asal Bandung yang digawangi oleh AGUS, DION, AHMAD dan IXAN merilis album kedua yang diberi tajuk Biarlah Sepi” pada tahun 1995. Kelompok rock asal Bandung ini terlihat mengubah aliran ketika merilis album ini, setidaknya di lagu unggulan BIARLAH SEPI yang terdengar beda dengan album sebelumnya. Biasanya lagunya sangat ngerock dengan lengkingan nada yang sangat tinggi, tapi di lagu BIARLAH SEPI mereka tampil santai, bahkan nada yang dinyanyikan adalah low tone. Usaha ini membuat lagu ini tidak hanya disukai pendengar rock tapi juga pendengar pop.

Band medium yang mempunyai skill dan semangat yang tinggi, tahun 90an adalah tahun yang membuat band ini melejit. namun setelah perkembangannya membuat corak musik band ini cmn seperti mengikuti pasar aja. suasana rocknya dah berkurang drastis. beda pada masa awal2 band ini terbentuk, sangat garang dan ngerock abis. Mungkin serasa asing di telinga, tapi bagi rocker sejati sahara mempunyai skil yang dahsyat dan lagu lagu yang garang.

Sahara terdiri dari Ixan Rantas(vokal), Dion (gitar), Ahmad Sebastio (bass), dan Agus Azis (drum). Grup band asal Bandung ini sempat merajai festival-festival rock pada tahun 90an. Album pertamanya berjudul ‘Insomnia’ dirilis tahun 1993, kemudian Biarlah Sepi (1995), disusul album ‘Tiga’ tahun 1997, dan album ‘Fourth’ tahun 2000. Terakhir pada tahun 2007 Sahara merilis album berjudul ‘Kemarin, Kini dan Nanti’. Album The Best of Sahara keluar sebelum Sahara merilis album keempatnya pada tahun 2000. Jadi album The Best ini merupakan kumpulan terbaik dari tiga album sebelumnya yaitu Insomnia (1993), Biarlah Sepi (1995) dan Tiga (1997), ditambah satu lagu baru berjudul Hasrat.

Di album terakhir itu posisi vokalis diisi oleh Ridwan. Nah ketika sedang sibuk-sibuknya mereka promo album, Ridwan mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia.Kemudian di angkat vokalis muda eron reza sebagai vokal pengganti, namun tidak lama eronpun cabut karna ingin melanjutkan studi nya dan di gantikan Alex hutajulu dan sempat mengeluarkan beberapa single, akhirnya pada tahun 2012 Ixan Rantas kembali.

Terakhir, secara nasional tampil reuni pada acara Radio Show di tvOne bulan 28 Mei 2012, dan tanggal 16 September 2012 Sahara kembali menggebrak dengan penampilan apiknya di gelaran “BANDUNG ROCKIN FEST” yang di selenggarakan di Lap.Brigif Cimahi .

Diskografi

SAS – Super Rock Trio Yang Dahsyat

Tidak mau berlama-lama vakum dari bermusik disamping semangat meraka akan musik rock masih menderu-deru maka paska bubarnya AKA, Syeh Djefry Abidin, Arthur Kaunang dan Sunatha Tandjung langsung saja tancap gas membuat kugiran cadas dengan nama yang berasal dari inisial nama-nama mereka masing-masing seperti super group ELP yang menginspirasikan mereka dan memproklamirkannya sebagai SAS !, yang mana kemudian SAS melaju pesat sebagai band yang paling produktif manggung di era pertengahan 70-an dan nyaris membabat habis hampir semua panggung di Tanah Air dengan lagu-lagu dari Emerson Lake & Palmer  seperti ; Promenade, Jerusalem, Karn Evil 1st impression  s/d 4th impression, Thank, From The Beginning, Still You Turn Me on atau lagu-lagu dari group band luar lainnya seperti Green Sleeves, Somewhere, the Land Is Mine ,Stairway To Heaven dll disamping lagu-lagu karya mereka sendiri seperti; Bad Shock dan Baby Rock yang masuk Top Ten di Radio Australia itu.

“ Karena SAS-lah  para remaja kita  mulai dari  kota hingga pelosok desa menjadi kenal lagu-lagu ELP” kata Syeh Abidin  dalam suatu pertemuan bulanan KPMI di Langsat Corner tiga tahun yang lalu.

Kesuksesan Yang Tidak Terbendung

SAS pernah sepanggung dengan dengan Superkid, Giant Step ataupun God Bless serta group lainnya dan membuktikan pada para pesaingnya bahwa mereka memang beda. SAS memang beda, mereka mempunyai ketinggian skill, PD yang overloaded, aksi panggung yang first class dan stamina yang sangat prima karena semua pemainnya tidak pernah sedikitpun tersentuh dengan narkoba yang saat itu sedang trend dan sudah memakan korban beberapa rockers ternama.

Dunia panggung-pun nyaris dikuasai oleh mereka semua, volume pementasannya nyaris  sama  banyaknya  dengan  pementasan  Superkid, dari  mulai  Surabaya,  Malang, Yogyakarta, Solo, Jakarta hingga pelosok-pelosok yang terpencil di Indonesia menjadi demam SAS . Malang yang dikenal sebagai kota yang sangat kritis dan sangar  terhadap setiap pertunjukan musik cadas namun ternyata tidak selamanya pertunjukan musik cadas  disana akan berakhir dengan aksi pelemparan batu kayu maupun sendal dari penonton disana, mereka sangat obyektif dalam menilai kualitas musik dan penampilan kugiran cadas yang datang kesana. Sewaktu SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut ternyata sambutan kaula muda disana berbeda tidak ada satu butir pun kerikil atau sandal dan batu yang terbang melayang ke atas panggung.

Mungkin para penonton merasa kagum dan segan dengan wibawa dan permainan SAS yang hebat itu disamping penguasaan mereka akan lagu-lagu ELP yang nyaris sempurna oleh karenanya tidak ada alasan bagi arek-arek malang itu untuk membuat kegaduhan bahkan setiap lagu yang dimainkan selalu mendapat sambutan yang membahana. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada Kockpit di era 80-an yang mana mereka sangat dielu-elukan disana.Gaya gebukan Syeh Abidin yang mantab, petikan gitar Sunatha Tandjung yang melengking mulus sempurna dan betotan bass yang garang serta permainan keyboard yang brutal dari Arthur Kaunang membuat SAS menjadi salah satu kugiran cadas yang paling disanjung dan dihormati di kota Malang dan pantas disejajarkan dengan God Bless, Rollies,Superkid dan Giant Step.

Salah satu kelebihan SAS adalah mereka sangat menguasai  blocking  panggung  walaupun hanya dengan tiga personel, Arthur dengan postur tubuh seperti wong londo dengan rambut panjang yang nyaris sepinggang itu biasa membuat para penonton menjadi histeris dengan permainan solo keyboardnya dimana dia begitu  garang  di   panggung sampai terkadang dia bergelintingan dilantai sambil memainkan  bass guitar atau menjungkirbalikan keyboardnya dan dimainkannya dilantai panggung serta kadang -kadang  keyboard-nya  itu dibuat seperti kuda yang dia jepit dengan kedua belah pahanya. Kalau saja organ Farfiza dan Hammond serta synthesizer yang dimainkan oleh Arthur itu bisa berbicara mereka pasti berteriak-teriak agar tidak selalu dijungkirbalikan dilantai panggung  olehnya!, namun karena itu merupakan bagian daripada sensasi SAS yang paling digemari penonton maka Arthur terus memainkan atraksinya itu!.

Belum lagi Syeh yang begitu mantab  dalam menggebuk deretan drum dan cymbal serta hentakan kedua kakainya pada double bass drumnya. Atraksi yang paling membuat surprise penonton manakala Syeh beranjak dari deretan drum yang mengelilinginya yang langsung menggantikan Arthur bermain bass terutama dalam lagi From The Beginning .Sunatha juga tidak kalah hebatnya dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga melengkapi kedahsyatan permainan Trio Rock handal itu. Pertengahan tahun70an hingga penghujungnya benar-benar merupakan ‘Golden Era’ untuk Super Trio Progressive dari kota Buaya itu.

The Flying Stones

Namun diantara kesuksesannya, SAS pun pernah juga mengalami nasib naas yang sebenarnya bersifat non musikal seperti ketika pertunjukan musik perdana mereka di Taman Ria Monas pada pertengahan Februari 1976, dimana mereka mengalami sedikit kekacauan karena gangguan listrik yang kurang diantisipasi oleh fihak Taman Ria Monas sebagai penyelenggara karna sejak kedatangan Deep Purple di Senayan, SAS memang telah membuat  revolusi baik dalam sound system maupun lighting mini ala Deep Purle walapun kapasitasnya baru pada tingkat belasan ribu watts yang mana jelas membutuhkan daya listrik yang extra saat itu.

Ketika kelompok ini memainkan lagunya yang kedelapan, yaitu lagu milik group musik Deep Purple, tiba-tiba listrik mati. Akibat dari adanya gangguan listrik tersebut maka pertunjukan musik SAS tidak bisa dilanjutkan dan penonton merasa kecewa dan marah pada penyelenggara yang kemudian melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu dan sandal serta apa saja yang bisa dilempar ke arah panggung, sehingga membuat beberapa peralatan musik SAS rusak. Kerusuhan penonton juga terjadi di Surabaya, tepatnya ketika SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut. Kerusuhan itu bermula saat mereka baru memulai pertunjukannya selama satu jam dan tiba-tiba listrik mati. Gangguan listik ini mengakibatkan group tersebut tidak bisa melanjutnya pertunjukkan musiknya. Penonton tidak bisa menerima keadaan yang terjadi dan melampiaskannya dengan melemparkan sandal, sepatu, batu-batu serta kayu ke arah panggung dan mengakibatkan kerusakan pada peralatan musik. Kerugian akibat pelemparan batu itu ditaksir sebesar Rp. 450.000,00. yang saat itu merupakan jumlah yang sangat besar.

Didalam internal SAS sendiri  kelebihan dari para personil SAS  yaitu mereka saling hormat mengormati  satu sama lain oleh karena itulah dalam sejarahnya mereka tidak pernah terjadi keretakan atau perpecahan “Hingga kini SAS tidak pernah bubar! ” Kata Syeh Abidin dalam suatu diskusi bulanan KPMI di Langsat Corner Kebayoran Baru beberapa tahun yang lalu.Walaupun kini para personel SAS sudah tidak muda lagi namun rasa persaudaraan mereka tetap terjalin, mereka bertiga sesekali saling berkomunikasi kata Syeh Jefry Abidin.

Keberadaan Mereka Kini

Setelah era 70-an sekian puluh tahun berlalu , dan setelah mereka melempar album Metal Baja pada tahun 1991 dimana album itu disebut sebut sebagai album rock terbaik  hingga saat ini, kemudian mereka menjadi menjadi vakum  sejak merilis  20 Golden Hits pada tahun 1993 nampaknya ketiga pentolan kugiran cadas yang dahsyat itu sudah tidak ada minat lagi untuk naik panggung atau untuk sekedar menyenangkan fans mereka yang masih selalu merindukannya. Bagaimana khabar mereka kini?…Syeh Jefry Abidin sang drummer yang pada era keemasannya sering disebut-sebut sabagai John Bonham-nya Indonesia?, kegiatannya sekarang sebagai  seorang Da’i dan  pengusaha, Syeh tinggal di Jakarta dengan keluarganya yang harmonis, bakat musiknya diwariskan kepada salah seorang anaknya yang ganteng yang mempunyai group band juga sedangkan Sunatha Tandjung yang dahulu  yang disebut-sebut sebagai Jimmy Page-nya Indonesia itu, kini dia lebih suka tinggal di Surabaya kota yang membesarkan dan melambungkan namanya sebagai seorang gitaris rock kelas wahid. Tetapi kini dia tidak pernah lagi mau kembali kedunia musik hangar binger itu karena faktor usia dan jaman yang sudah berbeda, sedangkan Sunatha setelah sembuh dari sengatan listrik yang berdaya ribuah ribuan watt di panggung dan membuat lengannya lumpuh kini dia sangat aktif sebagai seorang Pendeta dimana setiap hari-nya dia disibukan dengan pekerjaannya sebagai pelayan Tuhan, baginya tiada hari tanpa melayani jema’atnya, dan bagaimana pula dengan si pencabik bass dan keyboardist dahsyat Arthur Kaunang yang pada era keemasannya sering diasosiasikan sebagai Keith Emerson-nya Indonesia? kegiatannya kini sebagai seorang pendeta juga dan pembuat lagu lagu rohani yang sangat taat pula mereka telah memutuskan jalan hidup mereka untuk menjadi Pendeta, kini para anggota SAS telah memiliki kesibukannya sendiri-sendiri mereka telah memiliki garis tujuan hidup yang hakiki pada diri mereka masing-masing. dalam membaktikan diri mereka untuk  manusia dan  Tuhan-nya.

ALBUM  SAS

  1. Volume 1 Baby Rock (Indra Record 1975)
  2. Volume 2 Bad Shock (Indra Record 1976)
  3. Volume 3 (Indra Record 1977)
  4. Blue Sexy Lady (1977)
  5. Expectation (1977)
  6. Love Mover (1977)
  7. Pop & Rock Indonesia 1(1978)
  8. Pop & Rock Indonesia 2 (1979)
  9. SAS 80 (1980)
  10. SAS 81 (1981)
  11. Sansekerta (1983)
  12. Kasmara (1983)
  13. Episode Jingga (1985 )
  14. Sirkuit (1988)
  15. The Best of SAS (1990 Arrangement) (1990)
  16. Metal Baja (1991)
  17. 20 Golden Hits (1993).

Sejarah Gitar

Banyak orang yang bisa memainkan gitar, namun sedikit yang mengetahui sejarahnya. Berikut kita akan melihat sekilas sejarah gitar dari masa ke masa. Sebenarnya sejarah gitar sangat panjang, namun mengingat ruang yang terbatas, wacana ini akan meninjau secara garis besar saja.   

Pertama-tama: Dari Babilonia hingga Senar Enam

Sejarah gitar dipercaya dimulai di wilayah Timur Dekat. Di antara puing-puing yang di temukan di Babilonia, yang paling relevan adalah gitar yang dibuat pada 1900-1800 SM. Dari masa itu, hingga tahun 1650, gitar mengalami evolusi yang begitu rumit dan beraneka ragam. Begitu banyak jenis dan masing-masing memiliki nama yang berbeda.

Beberapa kalangan berpendapat lain, menganggap gitar justru berasal dari negara Spanyol karena alat musik gitar mirip sama alat musik Spanyol yang bernama Vihuela yang beredar pada awal abad ke-16. Alat baru ini (gitar) mempunyai cara pembuatan yang sama dengan alat musik ukulele. Gitar pertama kali yang dibuat sebenarnya berukuran sangat kecil dan juga hanya memiliki empat dawai, seperti ukulele.
Pada masa klasik banyak terdapat publikasi yang dilakukan oleh para pembuat lagu dan juga para pemusik. Seperti Fernando Sor, Mauro Guiliani, Matteo Carcassi, Fernando Caulli, dan masih banyak para pencipta yang mengembangakan metode bermain gitar yang akhirnya menjadi permainan yang umum dan dapat diterima.
Instrumen yang penting kontribusinya dalam perkembangan gitar adalah instrumen Cittern. Instrumen ini juga berbentuk menyerupai buah pir dengan bagian belakang yang rata, dengan empat atau lima pasang senar dari kawat dan dengan fretting yang permanen apakah itu diatonik seperti Appalachian Dulcimer ataupun chromatic seperti gitar modern. Tuning head sudah dipasang mirip seperti pada gitar atau mandolin. Stemannya sama dengan mandolin (in fifths) dengan fingering dan chord yang sama dan dimainkan dengan plectrum atau pick. Four Course Guitar memiliki 4 pasang senar, body berbentuk gitar dan soundboard yang rata, bridge dari lute dan bagian belakang dibuat setengah melengkung tetapi tidak terlalu membentuk bulatan. Instrumen ini berukuran seperti gitar anak-anak. Five Course Guitar muncul sekitar tahun 1490 dan mirip dengan four course guitar dengan tambahan satu pasang senar bass. Instrumen ini dinamakan juga English Guitar. Ada pula Vihuela De Mano berasal dari Spanyol dan merupakan instrumen dengan enam pasang senar. Bodynya cukup besar seperti gitar klasik jaman sekarang dan mempunyai beberapa lubang suara di atasnya. Instrumen ini menggunakan fixed bridge dan kemungkinan merupakan nenek moyang langsung dari gitar 12 senar USA yang masuk ke Amerika Utara melalui Mexico, Texas dan Louisiana.
Masih banyak jenis gitar lainnya yang terus berkembang. Gitar seperti yang kita kenal sekarang, yaitu bersenam enam, baru muncul sekitar tahun 1750. Dan selama sekitar 90 tahun berikutnya (hingga tahun 1840), gitar senar enam ini cukup pesat berkembang di Spanyol.
Asal Usul Gitar Listrik
Lalu sejarah gitar listrik bermula pada tahun 1930, ketika seorang yang bernama George Beauchamp mulai mencari cara untuk menambah volume gitar. Diketahui jika suatu kawat di beri gaya medan magnet maka dapat menciptakan arus listrik. Atas dasar pemikiran ini Ia meneliti dan mengadakan suatu percobaan dengan jarum Gramopon ( pada dasarnya teknologi ini bisa didapati pada motor² listrik, generator, jarum gramopon, radio dan mic ). Ia percaya bahwa jika dawai gitar digetarkan dekat medan magnet akan bisa diubah menjadi arus² listrik dan kemudian dikonversi kembali menjadi gelombang suara melalui speaker. Setelah percobaan berbulan – bulan dan bekerja sama dengan Paul Barth maka terciptalah pickup pertama yang sederhana terdiri dari 6 kutub dan tiap² kutub untuk masing – masing dawai. Pickup berisi kumparan yang digulung rapi. Menurut ceritanya, Ia mengambil kumparan itu dari mesin cuci dan melilitnya kembali dengan motor mesin jahit. Penemuannya ini sangat dihargai dan mendapatkan hak paten.

Lloyd Loar dengan penemuannya ini maka langkah selanjutnya Ia mencari orang yang mau bekerja sama dan membantunya dalam soal dana. Ia menghubungi Adolph Rickenbacher temannya dulu di National String Instrument Company tempatnya bekerja. Mereka bekerja sama dan membentuk sebuah perusahaan dengan nama Instrumens Rickenbachers. Akhirnya Mereka mulai memproduksi gitar listrik pertama yang disebut “The Frying Pan” ( mungkin karena badan gitarnya terbuat dari panci ). Ini yang membuat perusahaan mereka tertulis dalam sejarah sebagai pabrik yang pertama membuat dan memproduksi gitar listrik.

Selanjutnya seseorang yang bernama Lloyd Loar memperkenalkan gitar listrik yang modelnya berbentuk gitar Spanyol. Ia dianggap yang pertama kali membuat dan memasarkan gitar model ini. Ia telah banyak melakukan percobaan² ini mulai awal 1920 dan pada tahun 1933 mendirikan perusahaan dengan nama Vivi  Tone yang merupakan anak perusahaan dari Gibson Company. Perusahaan ini memproduksi gitar listrik dengan bentuk gitar spanyol tapi dalam satu tahun perusahaan ini tidak berhasil.
Dari kegagalan ini, akhirnya mengilhami Gibson Company untuk mencoba melanjutkan menciptakan gitar listrik. Dari usaha-usaha yang dilakukan maka terciptalah gitar listrik ES-150 yang nantinya menjadi perintis gitar-gitar listrik selanjutnya.
Sejarah gitar listrik berlanjut pada tahun 1933 pada saat Alvino Rey yang juga bekerja pada Gibson Company mengembangkan Pickup gitar listrik yang lebih baik selain kualitas suara bentuknya juga diubah. Di balik Kesuksesan ES-150 masih didapati banyak kekurangan, karena badan gitar yang berongga maka getaran dari badan gitar juga ditangkap pickup sehingga ikut terdengar pada amplifier. Selain itu sering terjadi feedback dan suara² yang tak diinginkan. Karena itu seorang gitaris jazz terkenal Les Paul memperkenalkan solusi baru untuk membuat badan gitar padat dan tak berongga. Pada akhirnya Ia sukses membuat gitar badan padat dan menghasilkan suara yang bagus tanpa feedback atau suara²yang tidak dikehendaki. Selain itu Ia menambahkan pickup pada badan gitarnya menjadi dua. Pada tahun 1946 Ia membawa gitarnya ini ke Gibson tetapi ditolak dengan alasan konsumen kurang tertarik dengan gitar badan padat. Ia merasa kecewa karena usaha yang Ia rintis akhirnya gagal.

Tidak lama kemudian seorang yang bernama Leo Fender percaya bahwa gitar yang dibuat oleh Les paul dengan gitar badan padatnya akan banyak diminati oleh para konsumen. Akhirnya pada tahun 1943 Ia membuat gitar badan padat yang terbuat dari kayu pohon Ek dan menyewakannya kepada para musisi agar mendapat banyak dukungan. Akhirnya pada tahun 1949 Leo Fender mendapatkan kesuksesannya dengan model gitar badan padatnya dan mendapatkan penghargaan.

Melihat kesuksesan Leo Fender dengan gitar badan padatnya maka Gibson Company Akhirnya kembali melihat contoh gitar Les Paul dan mendisainnya ulang. Pada tahun 1952 diputuskan untuk memproduksi gitar badan padat dan menjadi suatu standar industri. Walaupun inspirasinya datang dari Les Paul gitar Gibson yang sekarang kita kenal dinamai menurut nama perusahaannya. Pada tahun 1961 Ted McCarty memperkenalkan ES-335 suatu gitar semi-hollow yaitu gabungan antara gitar berongga dan gitar badan padat. Dengan cepat gitar ini menjadi populer digunakan para gitaris² jazz diantaranya adalah BB King dan Chuck Berry.

Les PaulGibson dan Fender adalah perusahaan pembuat gitar yang telah berjasa mengembangkan instrumen ini khususnya gitar listrik dengan disain — disain yang futuristik. Keduanya sudah menjadi standar gitar bagi para musisi, seperti sekarang kita mengenal Gibson SG atau Fender Stratocaster.
Setelah kedua perusahaan tersebut telah berhasil mengembangkan gitar listrik, maka mulailah banyak bermunculan perusahaan² lain yang memproduksi gitar listrik sampai sekarang.

Leo FenderAda pula hal-hal yang nyentrik dalam perkembangan gitar seperti gitar bersenar tujuh yang dipopulerkan oleh Steve Vai di tahun 1989. Ide ini datang saat ia bergabung dengan David Lee Roth Band pada tahun 1985, menggarap album Crazy from the Heat. Ia memutuskan demikian karena sang bassis, Billy Sheehan, sering menyetel bassnya dengan formasi lain bernama Drop D Tuning (dari atas ke bawah: D-A-D-G, umumnya E-A-D-G). Bekerjasama dengan Ibanez tahun 1987, akhirnya lahirlah gitar pertama bersenar tujuh, dengan dawai teratas, alias ketujuh, bernada B. Gitar ini dinamakan The Universe-7 String. Vai juga memiliki gitar dengan neck yang berlawanan (menghadap ke kiri dan kanan), untuk membuktikan kemampuannya bermain kidal.
Sementara itu, Eddie van Halen, menjadi pelopor dalam penggunaan whammy bar up-down yang kemudian dikenal sebagai Floyd Rose tremolo/bridge. Inovasi ini lengkap dengan pengunci senar pada bagian nut gitar. Sistem ini dikenal sebagai locking nut tremolo system.
Floid Rose Eddie mengembangkan sistem tremolo yang sudah ada sebelumnya. Yaitu tremolo yang hanya bisa ditekan down atau turun (menghasilkan nada yang lebih rendah). Sistem lama ini dikembangkan oleh pabrik Fender dan terpasang sebagai perlengkapan standar pada model Stratocaster. Inovasi ini terpikir olehnya pada sekitar tahun 1976. Saat itu para gitaris hebat seperti Ritchie Blackmore dan Jimmy Page sering mengalami masalah pada tuning gitar mereka. Karena mereka sering mem-bending senar terlalu banyak untuk menghasilkan suara yang 1½ nada lebih tinggi. Akibatnya senar jadi kendor dan tentunya nadanya juga jadi fals. Dengan locking nut tremolo system, senar dikunci di bagian nut gitar agar tidak bergeser ketegangannya.